Sejarah GKJ Kotagede
Sejarah Singkat GKJ Kotagede
Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kotagede berlokasi di Kampung Depokan RT 07 RW 02, Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta. Gereja ini berada di kawasan yang strategis karena dikelilingi oleh berbagai destinasi wisata sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif yang menjadi ciri khas Kotagede.
Sekitar satu kilometer di sebelah utara gereja terdapat Kebun Binatang Gembira Loka, salah satu destinasi wisata keluarga di Yogyakarta. Sementara itu, sekitar satu kilometer di sebelah selatan terdapat Kawasan Wisata Kotagede, yang dikenal sebagai sentra kerajinan perak terbesar di Yogyakarta. Di kawasan ini pengunjung dapat menemukan beragam produk kerajinan berbahan perak dan emas, galeri seni, toko cinderamata, hingga pasar yang menjual barang-barang antik.
Kotagede juga terkenal dengan kuliner tradisionalnya. Berbagai makanan khas seperti Yangko, Kipo, Sagon, serta aneka jajanan tradisional lainnya menjadi oleh-oleh favorit bagi wisatawan.
Tidak jauh dari kawasan tersebut berdiri berbagai situs bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram Islam, di antaranya Kompleks Makam Panembahan Senapati dan Ki Ageng Pemanahan, Situs Budaya Selirang yang dahulu digunakan sebagai tempat pemandian keluarga kerajaan, Watu Gatheng (Batu Cantheng) yang memiliki nilai historis dan legenda masyarakat, serta Masjid Agung Mataram Kotagede sebagai salah satu peninggalan penting Kerajaan Mataram.
Keberadaan GKJ Kotagede di tengah kawasan bersejarah ini menjadikan gereja bukan hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial, budaya, dan sejarah masyarakat Kotagede.
Lini Masa Perjalanan GKJ Kotagede
1936 – Awal Pelayanan di Ketandan
Cikal Bakal GKJ Kotagede
Perjalanan GKJ Kotagede diawali dengan berdirinya Pepanthan Ketandan yang dirintis oleh GKJ Gondokusuman. Tempat ibadah pertama tersebut berada di Ketandan, Desa Banguntapan, Kabupaten Bantul.
1949 – Pepanthan Ditutup
Masa Perjuangan Kemerdekaan
Akibat situasi Perang Kemerdekaan Republik Indonesia, kegiatan pelayanan di Pepanthan Ketandan terpaksa dihentikan sehingga pepanthan ditutup untuk sementara.
17 Agustus 1952 – Pelayanan Berlanjut di Tinalan
Peran Keluarga Atmosandjojo
GKJ Mergangsan membuka kembali pelayanan melalui Pepanthan Kotagede. Kebaktian perdana dipimpin oleh Pdt. Sangijo Dwijoasmoro dan dilaksanakan di rumah keluarga Warsid Praptodarmodjo, yang saat itu menyewa rumah milik keluarga Atmosandjojo di Kampung Tinalan, Prenggan, Kotagede (di sebelah timur lokasi SMP Negeri 9 Yogyakarta saat ini).
Ibadah di rumah tersebut berlangsung selama kurang lebih empat tahun, hingga tahun 1956, sebelum akhirnya rumah kembali ditempati oleh pemiliknya.
1954–1955 – Pembelian Tanah Gereja
Awal Berdirinya GKJ Kotagede
Majelis GKJ Mergangsan berhasil membeli sebidang tanah seluas sekitar 1.200 m² di Kampung Depokan dari keluarga Mujiyo dan Pawirodikromo, warga Rejowinangun. Di atas tanah inilah kemudian dibangun gedung GKJ Kotagede yang masih digunakan hingga sekarang.
31 Oktober 1956 – Pembangunan Gedung Gereja Dimulai
Pembangunan gedung gereja diawali dengan kebaktian doa yang dipimpin oleh Pdt. Prawirohadmodjo.
Gedung pertama berukuran 8 × 16 meter, terdiri atas ruang ibadah berukuran 8 × 13 meter dan ruang konsistori 8 × 3 meter.
Pembangunan dikerjakan oleh Bapak Kerto Wiryomo, seorang pengusaha kayu jati di Kotagede yang bukan beragama Kristen. Proses pembangunannya dilakukan secara bertahap dengan sistem pembayaran mengangsur.
1957–1962 – Ibadah di Basen
Peran Keluarga Atmo Prayitno
Selama pembangunan gedung gereja berlangsung, ibadah dilaksanakan di rumah keluarga Atmo Prayitno di Kampung Basen, Kotagede, yang berada di sekitar kawasan tenggara RS PKU Muhammadiyah Kotagede saat ini.
1 November 1962 – Peresmian Gedung Gereja
Setelah melalui proses pembangunan selama sekitar enam tahun, gedung gereja di Kampung Depokan resmi digunakan sebagai tempat ibadah jemaat GKJ Kotagede.
24 April 1966 – Memperoleh Badan Hukum
GKJ Kotagede memperoleh status badan hukum sebagai lembaga keagamaan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 19 Tahun 1966 tanggal 24 April 1966.
14 Juni 1967 – GKJ Kotagede Menjadi Gereja Dewasa
Pepanthan Kotagede resmi didewasakan menjadi gereja mandiri pada 14 Juni 1967, dengan sengkalan “Mulang Rasa Wiwaraning Allah.”
Berdasarkan Surat Atestasi dari GKJ Mergangsan Nomor 374D/VII/1967 tanggal 20 Agustus 1967, jumlah warga jemaat saat pendewasaan mencapai 312 jiwa, terdiri atas:
- Laki-laki dewasa : 91 orang
- Perempuan dewasa : 96 orang
- Anak laki-laki : 62 orang
- Anak perempuan : 63 orang
1967–1972 – Masa Pendeta Konsulen
Sebelum memiliki pendeta tetap, pelayanan pastoral di GKJ Kotagede dilaksanakan oleh para pendeta konsulen yang ditugaskan Klasis Yogyakarta, yaitu:
- Pdt. Prawirohadmodjo
- Pdt. Suharto
- Pdt. Madyosuwignjo
15 November 1972 – Memiliki Pendeta Pertama
GKJ Kotagede memiliki pendeta tetap pertama setelah ditahbiskannya Pdt. Purwanta Rahmad, S.Th., yang sebelumnya melayani di GKJ Medari, Sleman.
19 Juni 1992 – Pentahbisan Pendeta Kedua
Pada tahun 1992, GKJ Kotagede kembali menerima anugerah dengan ditahbiskannya Pdt. Budi Rahardjo, S.Th., yang berasal dari GKJ Manisrenggo, Klaten.
Pentahbisan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-25 GKJ Kotagede.
2006–2007 – Rehabilitasi Pascagempa
Gempa bumi besar yang melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006 mengakibatkan gedung GKJ Kotagede mengalami kerusakan berat.
Setelah melalui proses rehabilitasi, pembangunan kembali gedung gereja selesai pada tahun 2007, dan memperoleh Izin Mendirikan Bangunan Bangunan (IMBB) Nomor 2800/KG/2007/8167/01 tanggal 30 Oktober 2007.
2008–2009 – Bergabung dengan Klasis Yogyakarta Selatan
Seiring penataan wilayah pelayanan Gereja Kristen Jawa, GKJ Kotagede bergabung dalam Klasis Yogyakarta Selatan.
Hingga saat ini GKJ Kotagede melayani jemaat yang tersebar di lima wilayah kecamatan, yaitu:
- Kecamatan Kotagede
- Kecamatan Umbulharjo
- Kecamatan Banguntapan
- Kecamatan Pleret
- Kecamatan Sewon
Dengan perjalanan sejarah yang panjang, GKJ Kotagede terus bertumbuh sebagai gereja yang setia melayani Tuhan dan sesama. Berakar pada warisan iman para pendahulu, gereja ini terus mengembangkan pelayanan yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Kotagede.