Stop Budaya Menyalahkan Orang

Yohanes 9:1-41

Kisah tentang seorang yang buta sejak lahir, dimulai dari pertanyaan orang banyak yang tidak menunjukkan empati: “Siapakah yang salah sehingga buta sejak lahir, apakah ia atau orang tuanya?”

Sikap saling menyalahkan, bukan hanya terjadi di jaman itu; melainkan juga di jaman sekarang. Kita cenderung mencari “kambing hitam”. Ketika COVID-19 ini merebak, dengan mudah kita menyalahkan pihak-pihak lain: pemerintah yang kurang siap, pasien, dll.

Penyembuhan orang buta menunjukkan bahwa melalui kelemahan manusiawi, Allah berkenan menunjukkan kuasa-Nya. Namun menariknya, ketika penyembuhan telah terjadi, orang-orang Farisi menolak mujizat tersebut, bahkan menyalahkan Yesus yang melakukannya di hari Sabat.

Mari berhenti menyalahkan orang lain yang mungkin tidak sadar dan masih mengadakan kegiatan ramai-ramai mengumpulkan orang, atau datang ke kerumunan. Tetapi beritakan dan ajarkan protokol kesehatan mencegah penularan covid 19. Kita yang sehat bisa jadi malah mencelakai saudara-saudara yang kekebalan tubuh (antibody melawan virus) lemah, karena menjadi pembawa virus terutama kepada para orangtua dan kakek-nenek kita. Virus ini menyebar lewat kontak. Satu-satunya jalan menghentikan penyebaran dengan membatasi kontak.

Yang kita butuhkan sekarang adalah bahu-membahu bersama-sama mencegah penularan dan penyebaran virus corona 19. Dengan sedia sukarela membatasi aktifitas bertemu dan kontak dengan yang lain. Dengan membantu para petugas medis yang sibuk lembur kurang istirahat menangani pasien covid 19. Dengan menggalang kepedulian dan membantu sesama yang karena tidak bisa bekerja mendapat kesulitan guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya. Dan semua itu bisa kita mulai dengan cara sederhana. Batasi kontak, batasi pertemuan, jangan malah kita menjadi pembawa dan penyebar virus ini kepada saudara-saudara yang kondisinya lemah. Hanya itu saja bagian kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *