Mengenal karya Kristus

Lukas 24: 13-35

Pangling adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang berarti tidak mengenali. Kondisi itu terjadi ketika kita sudah lama tidak berjumpa dengan seseorang atau kita sudah lama tidak berada di tempat itu. Namun pangling ini juga dialami para murid yang sedang pulang kampung ke Emaus, padahal baru beberapa hari mereka ditinggalkan oleh Yesus, Sang Teman Seperjalanan mereka. Lalu kenapa mereka bisa pangling? Karena mereka dibutakan rasa cemas, sedih, rindu, frustasi dan juga perasaan kehilangan. Mereka tidak lagi mampu mengenali Yesus yang berada di tengah mereka.

Bukankah kondisi tersebut mirip dengan kita saat ini ketika terdampak COVID-19? Yang membuat kita pangling bahwa Yesus sebenarnya berada bersama dengan kita dan menemani perjalanan kita. Lalu bagaimana para murid akhirnya dapat kembali mengenali Yesus?

  1. Mendengarkan. Ketika mereka berhenti berkeluh kesah, mulai mendengarkan Yesus. Begitu pula dengan kita: berhentilah mengeluh, protes, sibuk dengan analisis kita; mulailah berdiam dalam keheningan doa, biarkan Ia berbicara&menenangkan kita.
  2. Terus berbuat baik. Seandainya mereka tidak mengundang Yesus untuk tinggal bersama, mereka akan kehilangan kesempatan untuk mengenali-Nya. Begitu pula ketika kita berhenti berbuat baik, kita akan kehilangan kesempatan mengenali-Nya melalui wajah orang yang kita tolong.
  3. Melihat tanda-Nya. Ketika Yesus memecah roti, maka mereka mengenali bahwa sosok tersebut adalah Yesus. Begitu juga dengan kita, bahwa mujizat akan terjadi dibalik kebaikan yang kita tabur.

Dampaknya, para murid putar balik ke Yerusalem. Bukan karena Emaus di-laukdaun, melainkan karena mereka sadar apa yang harus dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *