Kultur Komunal dan Social Distancing

oleh : Pdt Gideon Hendro Buwono

Kenapa kok orang Indonesia sulit banget diminta social distancing, karena kultur komunal kita kuat. Mengakar, sampai jadi sesanti-sesanti: mufakat, gotong royong, cara kekeluargaan, ronda. Keterikatan relasional satu sama lain itu bukan lagi di permukaan, yang ketemu sesekali, say hi, lalu hihihi sebentar, tapi sampai lihat tetangga punya gawe aja kalau gak datang rasanya gak sopan. Kalau ada yang mengajak, ayo kumpul di rumah Pak A buat kenduren, kalau gak datang rasanya kualat.

Itulah makanya kenapa kok susah disuruh ibadah di rumah sendiri-sendiri. Karena ada nilai yang bertentangan. Orang tahu bahwa seharusnya begitu, tapi dalam diri mereka ada juga yang mengatakan seharusnya tidak begitu. Kultur komunal ini sudah masuk sampai ke darah-darah, daging-daging, tulang-tulang, sampai kita gak sadar menganggapnya ya memang kudu begitu. “Gak pantes kalau gak begitu” menandakan pertentangan dilematis nilai itu. Ibadah gak banyak yang datang, wah kurang bagus ini. Gak datang ibadah – walaupun sebenarnya biasa pas ibadah ngantuk-ngantuk – wah gak enak sama yang lain atau wah rasanya ada yang kurang kalau gak ketemu sama yang lain.

Sebagai simbol kultur komunal itu, salah satunya adalah tempat ibadah bersama. Namun, ketimbang terikat sama gerejanya – ok itu juga ada – tapi saya merasa orang lebih sulit menghilangkan rasa datang duduk ketemu, yang bersama, itu tadi. Coba misalnya semua orang gak datang ke gereja, tapi dia sendiri datang, dia pasti juga kelimpungan. Karena keterikatannya sebenarnya bukan sama gedungnya, tapi pada ikatan komunal tersebut. Ada satu dua yang mungkin terikat dengan tempat ibadah karena mungkin satu hari di pelataranMu lebih dari seribu hari di tempat lain, tapi pasti di pelataran itu lebih dimaknai ada di sana bersama-sama.

Kesulitan social distancing ini adalah mencabut orang dari kulturnya. Jadi bisa dipahami kan, gereja yang sulit untuk melakukan ini biasanya gereja yang kultur komunalnya lebih kuat. Di sisi lain bagi para pendeta, ditambah juga ‘kan pendeta punya panggilan melayani’ – nilai seperti itu ikut bercampur dengan tradisi komunal tersebut. Untuk orang pada umumnya, kultur ini sudah bercampur dengan panggilan bersekutu. Jadi saya bisa mengerti kenapa kok sulit disuruh ibadah sendiri-sendiri.

Namun, bagi saya ini situasi darurat. Saya gak mau lah perang ayat, dogma, atau apa pun. Kalau yang suka perang untuk cari pembenaran diri gak apa-apa, saya permisi-permisi saja. Situasi khusus ini membutuhkan kita mencabut diri kita dari akar kita. Ini gak gampang. Tapi yang perlu ditekankan adalah: ini tentang kehidupan. Kalau mau terus hidup, kali ini untuk sementara waktu kita perlu berjauh-jauhan. Relasi mesra kita selama ini memang cenderung digambarkan dengan berdekat-dekatan. Tapi kalau berdekat-dekatan memunculkan potensi kematian, bagi saya ya pilihlah hidup. Anggap saja ini bertarak, atau puasa, atau naik gunung untuk bertapa. Tidak ada orang bertarak selamanya, tidak ada orang berpuasa selamanya, tidak ada orang bertapa selamanya. Tapi ketika menjarak itu dibutuhkan untuk menjaga hidup, saya rasa ya ambillah itu. Yang komunal pun gak ada artinya kalau akhirnya berakhir dengan ketiadaan hidup. Memilih hidup inilah, yang bagi saya, jalan mulianya.

Mari memilih hidup ya, hidup yang kalau bisa lebih panjang dan mulia. Kayak lagu-lagu yang dinyanyikan pas ulang tahun gitu itu, yang nyanyinya fals di segala sisi itu lo, “Panjang umurnya serta mulia”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *