Hidup Jujur Adalah gaya Hidup

Yohanes 1:6-8, 19-28

Berkata jujur tidak selalu mudah, apalagi kita diperhadapkan dengan situasi yang menyulitkan. Kadang seperti makan buah simalakama, berkata bohong kita berdosa tetapi berkata jujur kita akan membahayakan posisi mungkin bukan hanya diri kita tetapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Oleh sebab itu orang cenderung normatif tetapi juga permisif ketika tiba pada hal kejujuran. Ada kebohongan yang mengakibatkan dosa tetapi untuk kebohongan yang menyelamatkan diri dan orang lain, kita menjadi bingung menilainya.

Belum lagi kalau kebohongan itu mendatangkan keuntungan yang besar untuk diri kita, seperti reputasi, pujian, kredibilitas, pertemanan dan lain sebagainya.

Yohanes pembaptis diperhadapkan dengan situasi orang Yahudi yang sangat rindu pencerahan rohani. Mereka akan percaya kepada siapa saja yang menurut mereka mendatangkan hikmat dan pencerahan rohani. Ketika Yohanes Pembaptis tampil sebagai nabi yang membawa pencerahan rohani dengan menyerukan pertobatan dan baptisan, orang Yahudi dengan mudah berbalik dari jalan hidup mereka dan bersedia mengikuti Yohanes. Bagi Yohanes tentu ini adalah sebuah keuntungan. Jika ia mengaku sebagai nabi yang diutus Tuhan atau bahkan mengaku sebagai Mesias maka ia bukan hanya akan menuai ketenaran tetapi juga kenyamanan, ia akan diikuti oleh orang banyak dan memiliki akses kepada politik agama Yahudi.

Apakah Yohanes mengambil posisi itu? ternyata tidak, ia lebih suka mewartakan “Dia” yang akan datang sambil berseru-seru dipadang gurun, bahkan untuk makan saja ia bergantung penuh pada pemeliharaan Allah. Ia sama sekali tidak mengambil keuntungan dari pandangan orang terhadapnya, melainkan dengan jujur mengaku bahwa “Aku bukan Dia”.

Kejujuran Yohanes ini mengajak kita untuk dengan sukacita menjalani pilihan hidup semacam itu. Hidup yang bukan aku lagi, melainkan hidup Kristus yang ada di dalam aku. Kita diajak untuk dengan kerendahan hati mengaku bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Oleh sebab itu segala bentuk talenta, kebisaan, kemampuan dalam pelayanan hendaknya kita sikapi dengan jujur, dengan mengatakan “bukan aku tetapi Dia”, tidak menepuk dada tetapi mengangkat tangan memuji Tuhan. Segala puji dan sembah hanya bagi Dia yang telah memilih, menyelamatkan dan memampukan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *