Aku Adalah Pintu

YOHANES 10:1-10

Di kota-kota besar, pintu tampaknya semakin menjadi simbol ketakutan berurusan dengan orang luar, ketertutupan, ketidakpercayaan, ketidakpedulian, dan bahkan keterasingan.

Padahal pintu selalu berdimensi ganda. Di satu sisi, ia memang membatasi diri kita yang berada di balik pintu dengan dunia luar. Artinya pintu membentuk identitas kita (“bukan dari dunia,” kata Yesus dalam Yoh. 17:14, 16). Namun, di sisi lain, pintu juga menghubungkan kita dengan dunia luar (“di dalam dunia,” kata Yesus pula dalam Yoh. 17:11), sehingga kita menjadi satu dari beragam identitas.

Ketika yang satu ditonjolkan dengan mengabaikan yang lain, maka kekristenan berubah menjadi ekstrim. Ketika pembedaan-dari-dunia ditonjolkan dengan ongkos relasi-dengan-dunia, maka akan mudah muncul eksklusivisme. Jika, sebaliknya, relasi-dengan-dunia ditonjolkan dengan ongkos pembedaan-dari-dunia, maka gereja akan larut dan hanyut ke dalam kompromisme. Keduanya sama-sama menghancurkan kekristenan! Setidaknya, keduanya menjadikan kekristenan tak lagi menjadi apa yang diharapkan oleh Kristus.

Kedua dimensi tampak di dalam penggambaran “Akulah pintu” yang dipergunakan Yesus. Dimensi pertama, yaitu fungsi pintu untuk memisahkan domba-domba dari dunia luar, muncul di dalam ayat 9, ketika Yesus berbicara mengenai domba-domba yang “masuk melalui Aku;” sedangkan dimensi kedua, yaitu fungsi pintu untuk menghubungkan domba-domba dengan dunia luar, muncul di dalam ayat 3, ketika Yesus berbicara mengenai Sang Gembala yang menuntun domba-dombanya “ke luar.”
Pesan yang ingin Yesus sampaikan kiranya menjadi bening buat kita, yaitu orang-orang Kristen tidak mungkin mempertahankan identitasnya tanpa terbuka pada dunia luar. Justru di dalam relasi dengan dunia luar itulah, identitas Kristiani terjaga, terbangun, dan bertumbuh-kembang. Lebih dari itu, hanya dengan keluar dari pintu dan memasuki dunialah, kita dapat mencapai “padang rumput” itu (ay. 9).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *