TEMA ULANG TAHUN KE-50 GKJ KOTAGEDE


Post Thumb

Kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efs. 4:13)  kiranya menjadi cita-cita atau mimpi seluruh jemaat milik Tuhan Yesus Kristus yang harus diwujudkan bersama. Cita-cita itu diwujudkan pertama-tama dengan membangun kesatuan  iman, pengharapan dan kasih.

 

Jemaat GKJ Kotagede saat ini berasal dari latar belakang  yang sangat bervariasi. Karena sangat diharapkan seluruh warga jemaat dapat saling merangkul dalam bingkai iman Kristen tetap menjaga keutuhan, tanpa sekat pemisaha entah suku, budaya, status sosial atau sekat apapun juga. Keanekaan wajah jemaat GKJ Kotagede harus diterima dengan penuh syukur sebagai anugerah Tuhan dan kiranya menjadi kekuatan dan modal atau aset berharga bagi perkembangan gereja masa depan. Kesatuan jemaat dalam keanekaan wajah merupakan buah dan sekaligus indikator kedewasaan iman jemaat.


Tahun  2017 ini adalah tahun pelaksanaan pesta emas (50 tahaun)  GKJ Kotagede, kiranya menjadi kesempatan emas bagi seluruh warga jemaat untuk secara aktif membangun iman agar semakin mantap, sehingga menghasilkan buah dalam aneka bentuk yaitu semakin mantap dalam persekutuan sebagai satu komunitas, semakin aktif dan kreatif dalam pelayanan baik dalam kehidupan menggereja mulai dari wilayah pelayanan jemaat maupun dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya. Kita berharap kesadaran iman jemaat  akan mendorong semakin banyak orang yang mau terlibat dalam kiprah pelayanan. Kita mendengar keluhan tentang kurangnya orang yang mau terlibat dalam kegiatan gereja. Kurangnya motivasi iman menyebabkan orang begitu mudah melalaikan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ini menjadi tantangan bagi kita semua yang harus kita atasi bersama.


Dalam lingkaran satu iman aneka wajah itu, seluruh warga jemaat berjuang membangun sebuah komunitas yang solid guna meningkatkan pelayanan / pengabdian kepada Gereja dan masyarakat sehingga  GKJ Kotagede dapat menjadi tanda dan sarana keselamatan yang efektif.

 

Tema HUT emas GKJ Kotagede adalah “Bersama Mewujudkan Perubahan”. Dengan Sub tema dari Perayaan 50 Tahun adalah “Satu Hati, Satu Persekutuan,  Satu Pelayanan Menuju Perubahan”. Rasul Yohanes mengungkapkan refleksi imannya atas peristiwa inkarnasi dengan mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Rasul Yohanes meyakini bahwa Yesus adalah Firman yang telah menjadi manusia dan dengan cara itu Allah dalam diri Yesus Kristus dapat tinggal di tengah kita manusia. Yesus datang untuk merajut kembali kebersamaan yang telah tercabik-cabik oleh dosa manusia pertama, Adam dan Hawa. Yesus datang untuk memulihkan relasi cinta dengan Allah dan merangkul seluruh umat manusia dalam bingkai kesatuan sebagai satu keluarga, satu komunitas dan satu kerajaan yakni Kerajaan Allah yang dijiwai oleh kasih persaudaraan. Dalam kesatuan kasih persaudaraan dan lewat kesatuan kasih persaudaraan kita mewujudkan kebahagiaan bersama.

 

Kebersamaan atau persaudaraan harus diyakini sebagai perangkat perkasa untuk membuat semua impian menjadi kenyataan. Ibarat sapu lidi. Dengan satu batang sapu lidi orang bisa menyapu membersihkan sesuatu yang kotor, namun kurang efektif dibandingkan dengan banyak lidi yang diberkaskan dengan ikatan kuat menjadi satu berkas. Dengan satu berkas sapu lidi orang dapat menyapu jauh lebih bersih dan lebih efektif. Kita dapat juga mengggunakan perbandingan lilin bernyala. Satu lilin bernyala dapat menerangi satu ruangan yang gelap gulita. Namun cahaya dalam ruangan itu akan lebih cemerlang bila banyak lilin yang dinyalakan bersama dalam satu kebersamaan. Demikian juga kita sebagai satu persekutuan  umat beriman. Secara individual kita dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama, tapi pasti jauh lebih efisien dan efektif kalau kita dapat berbuat sesuatu bersama-sama dan bersama-sama berbuat sesuatu.


Kebersamaan dalam perbandingan seperti disebut di atas selalu membuat sesuatu


menjadi lain dan punya nilai lebih. Sebuah Tema besar yang sangat inspiratif. “Bersama Mewujudkan Perubahan”. Dalam kebersamaan pasti dapat tercipta sebuah perubahan.


Kalau kita mau agar terjadi perubahan dalam jemaat GKJ Kotagede yang tercinta ini, tidak bisa tidak kita harus mulai dengan “membangun kebersamaan”. Rasul Paulus mengajak umat di Filipi dan tentu juga umat GKJ Kotagede untuk membangun kebersamaan, satu hati, satu persekutuan dan satu pelayanan dengan kata-kata indah “….hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Flp 2:2-4).


Hal pertama, harus ditumbuhkan kesadararan (konsientisasi) bahwa setiap kita adalah bagian dari perubahan itu. Di saat kita mengikatkan diri dalam kebersamaan sebagai satu persekutuan/komunitas dan satu gereja, saat itu perubahan sudah mulai terjadi. Kesadaran itu harus disusul dengan komitmen untuk aktif  berpartisipasi dalam bingkai kebersamaan sesuai kemampuan atau talenta yang kita terima dari Tuhan. Sebuah ungkapan mengatakan, “Kalau komitmen 100% hasilnya pun 100%”. Satu perubahan akan menggerakkan perubahan berikutnya dan seterusnya.


Perubahan itu sedang terjadi dan perlu kita tingkatkan dalam segala aspek kehidupan menggereja yakni pelayanan (diakonia) dan persekutuan (koinonia ) dan pewartaan (marturia). Ketiga bidang pokok itu merupakan soko guru Gereja yang akan menopang seluruh kehidupan Gereja. Perubahan dalam keempat bidang itu akan menjadi lokomotif yang membawa GKJ Kotagede terus berubah baik dalam hal kehidupan spiritual maupun fisikal dan jemaat betul-betul tampak beda karena kebersamaan kita. Kita percaya, perubahan itu bisa terjadi karena kebersamaan kita. “Bersama mewujudkan perubahan!” “Kita yakin akan perubahan!” Satu hati, satu persekutuan, satu pelayanan

Kembali Keatas